Legenda Gunung Hanjawar

66

Legenda Gunung Hanjawar – Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan tinggal di hutan belantara. Dia bernama Nyai Suriang Gobang. Dia memiliki wajah yang cantik. Sayangnya dia tidak mau bekerja. Sebagai perempuan, dia juga malas untuk membantu dan belajar memasak dengan ibunya. Kesehariannya hanya mengelus-elus dan merawat kulitnya sambil melantunkan kidung kesukaannya. Sehingga keluarganya jengah dan mengusir dia ke hutan. Dia membuat gubuk di lereng gunung dekat sungat di hutan itu.

Suatu malam, seekor harimau datang ke gubuknya. Nyai Suriang Gobang terkejut ketakutan dan berkata, “Jangan bunuh aku. Aku mohon, jangan makan aku!” Tiba-tiba harimau itu berubah menjadi seorang pemuda. Seorang pemuda berkata, “Namaku Ki Cunging. Saya yang akan menjadi suamimu.”

Nyai Suriang Gobang masih terlihat ketakutan dan merasa tidak percaya itu. Nyai Suriang Gobang dapat menerima itu, tetapi dia mengajukan syarat, “Saya akan menikah dengan kamu, apabila kamu mampu menanam pinang di seluruh gunung ini dalam satu malam.”

“Baiklah, aku menyanggupinya dan kamu lihat besok pagi,” Ki Cunging berkata dan meninggalkan gubuk itu.
Pagi harinya, Nyai Suriang Gobang terkesima, seluruh pohon pinang tumbuh dan berbuah memenuhi gunung itu. Dia tertawa kegirangan, “Yeah, aku akan cantik kembali, kulitku akan lembut kembali.” Segera dia mengambil beberapa buah pinang, lalu menumbuk dan melulurkan lempungan buah pinang itu di sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa tahun, Nyai Suriang Gobang melahirkan anak perempuan, namanya Wangi. Setiap hari dia mengasuh dan menasehati sambil melantunkan kidung Sunda kesukaannya ini.

“Ulah nyalindung ka gunung,
ulah muntang ka sagara,
gunung mah sok rajeun urug,
sagara sok rajeun saat, anaking
nya munjung kudu ka indung,
nya muja kudu ka bapa,
indung mah pan anu ngandung,
nya bapa anu ngayuga.

Sayangnya setelah dewasa, dia malas; sama seperti ibunya. Setiap hari dia hanya melulurkan lempungan buah pinang di badannya.

Suatu pagi, Ki Cunging berencana pergi ke kebun tanpa membawa makanan. Ki Cunging ingin Wangi mengantarkan makanan ke kebun, tetapi Wangi menolaknya dan Ki Cunging marah. “Ini salahmu, Gobang. Dia menjadi malas, karena kau mendidiknya seperti itu.” Nyai Suriang Gobang kaget dan menolaknya. “Tidak, suamiku! Saya hanya menunjukkan betapa saya sangat menyayangi dia, tidak lebih dari itu.” Ki Cunging menimpali, “Ini buktinya, kau dan dia menjadi malas.”

Tiba-tiba Wangi berdiri, “Diam! Wangi tidak mau bekerja agar kulit Wangi tetap halus, putih dan bersih; tidak seperti kulit Abah; yang hitam, legam dan kusam.”

Ki Cunging marah dan bertanya, “Apa katamu?”
Wangi malah tertawa terbahak-bahak. “Ha..ha… Pasti Abah juga bukan ayahku. Tidak mungkin Abah ini ayahku, karena Abah begitu jelek dan menakutkan.” Ki Cunging semakin marah. “Cukup! Kau telah melecehkanku, Abah sudah jengah dengan sikap dan kelakuanmu. Abah kutuk kau jadi ulat.”
“Jangan Abah, jangan! Dia itu anak kita,” sela Nyai Suriang Gobang.
“Tidak, Aku tidak akan menarik ucapanku,” sentak Ki Cunging.

Seketika Wangi merasa gatal. Perlahan tangan dan badannya ditumbuhi oleh bulu-bulu dan Wangi berubah menjadi ulat besar. Nyai Suriang Gobang terus memohon dan tidak berhenti menangis. Namun Ki Cunging tetap menolak dan pergi ke puncak gunung.

Kemudian Nyai Suriang Gobang berkata, “Baiklah nak, Emak akan membawa kamu kemana saja untuk menyembuhkan ini.” Lalu dia menggendong anaknya yang telah berubah menjadi ulat dan membawa sebiji koin kuning keemasan.

Nyai Suriang Gobang turun menyusuri bukit, lembah dan hutan belantara yang terjal. Suara binatang buas bersahutan tak dihiraukan. Wangi yang telah berubah menjadi ulat besar terus merintih dan meronta-ronta kegatalan dalam gendongan ibunya. “Sabarlah nak, Emak sangat menyayangimu, engkau pasti sembuh kembali,” ujar Nyai Suriang Gobang sambil mengucurkan air matanya.

Nyai Suriang Gobang kelelahan dan tiba di sebuah sungai. Akhirnya dia duduk di atas batu besar dan merendamkan kakinya di air sungai. Sambil meratapi kesedihannya, dia melantunkan pupuh Maskumambang ini,

“Aduh gusti pisediheun anak abdi,
can aya landongna,
abdi katalangsa diri,
jauh ka indung jeung bapa.”

Tiba-tiba air menjadi hangat, segera ia melemparkan koin itu ke sungai. Seketika air panas memancar dari sungai dan mengelilingi Nyai Suriang Gobang. Dia terkejut, Wangi sudah berubah lagi menjadi perempuan cantik. Keduanya terlihat senang, “Emak, lihat aku, aku telah sembuh.” Mereka tertawa kegirangan.

Mereka memutuskan untuk kembali lagi ke gubuknya. Di puncak bukit yang berhadapan dengan gunung itu, Nyai Suriang Gobang dan Wangi memanggil-manggil Ki Cunging dengan suara keras. “Abah, anak kita sudah sembuh. Dia lebih cantik sekarang.”

Mendengar itu, Ki Cunging merasa khawatir. Segera dia membacakan manteranya di puncak gunung. Dia duduk bersila sambil berkata, “Ya Tuhan, penguasa langit dan bumi, pemilik alam semesta dunia ini. Aku mohon pada-Mu. Ubahlah seluruh pohon pinang di gunung ini! Aku tidak yakin, sikap dan kelakuan anakku telah berubah. Aku mohon pada-Mu. Ya Tuhan, Gusti Yang Maha Suci; ubahlah seluruh pohon pinang di gunung ini.” Lalu dia berdiri dan menghentakkan tiga kali kaki kanannya. Seketika gemuruh angin datang, banyak pohon bertumbangan, dan mengagetkan seluruh binatang penghuni gunung itu. Dia tertawa terbahak-bahak.

Nyai Suriang Gobang dan Wangi berlari melewati lembah, bukit dan sungai. Mereka mencari Ki Cunging kemana-mana tetapi mereka tidak menemukannya. Wangi berkata, “Abah! Maafkan Wangi, Abah, Saya menyesal. Abah, dimana engkau, Abah?” Mereka terperangah. Gubuknya sudah berubah jadi batu besar dan seluruh pohon pinang di gunung itu telah berubah menjadi pohon pinang kecil, hanya mayang tanpa berbuah di pohonnya.

Orang-orang di sana mengatakan itu adalah pohon hanjawar. Oleh karena itu, disebutlah Gunung Hanjawar. Di samping itu, tempat dimana Wangi dimandikan dinamakan Cipanas dan sekarang tempat itu sedang dikembangkan menjadi lokasi wisata air panas di wilayah Ciparay Desa Sukamulya Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak.

Selesai

Ditulis oleh Ismawanto, S. Pd.
Diceritakan oleh Imelda Trisna Rahayu
(Siswa Kelas VIII A SMPN 1 Cibeber Kabupaten Lebak)
Meraih Juara 1 Lomba Dongeng Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Lebak Tahun 2018
Meraih Juara 1 Lomba Dongeng Tingkat SMP/MTs se-Provinsi Banten Tahun 2018

Diceritakan oleh Dwi Herdiani Putri
(Siswa SDN 1 Ciherang Kec. Cibeber Kab. Lebak)
Juara 1 Lomba Lomba Dongeng Tingkat SD se-Kabupaten Lebak Tahun 2019
Juara 3 Lomba Dongeng Tingkat SD se-Provinsi Banten Tahun 2019

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More