Adat Dan Budaya

Citorek

Masyarakat Citorek merupakan salah satu masyarakat adat di Kabupaten Lebak, Banten. Masyarakat adat Citorek hampir sama dengan masyarakat adat Cisungsang yang lebih terbuka, dibandingkan dengan masyarakat Suku Baduy.

Masyarakat adat Citorek masih memegang erat tradisi nenek moyak semenjak kampung ini dibentuk dahulu. Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Seperti halnya masyarakat adat Cisungsang, masyarakat Citorek lebih terbuka dengan dunia luar. Akses jalan telah sampai ke Citorek sehingga bisa memudahkan para pelancong ke desa ini. Dari Kota Rangkas Bitung, kawasan adat Citorek berjarak kurang lebih 180 kilometer.

Masyarakat adat Citorek, masyarakat adat Cisungsang, dan masyarakat adat Suku Baduy memiliki karakteristik yang sama dalam mempertahankan tradisi. Penghargaan masyarakat terhadap para sesepuh atau pemimpin adat sangat tinggi. Selain itu, masyarakat adat sangat taat terhadap aturan adat meskipun peraturan tersebut tidak tertulis.

Masyarakat adat Citorek teletak di Citorek, Kecamatan Cibeber. Kawasan adat Citorek mempunyai 4 wilayah adat atau disebut empat kasepuhan, yaitu Citorek Timur, Citorek Barat, Citorek Tengah, dan Citorek Selatan. Keempat Citorek ini masing-masing dipimpin oleh kepala kasepuhan.

Tradisi menjaga aturan leluhur membuat lingkungan di wilayah adat Citorek sangat terjaga. Penanaman padi di Citorek memiki aturan tertentu. Seperti halnya pada masyarakat adat Cisungsang, masyarakat adat Citorek juga memiliki tradisi Seren Taun sebagai bentu rasa syukur pasca panen.

Sistem pemerintahan mayarakat adat Citorek juga tidak jauh berbeda dengan di Cisungsang. Masyarakat ada Citorek menganut kepemimpinan tiga unsur, yaitu negara (lura/jaro), karhuhun (kasepuhan/kaolotan), dan agama (penghulu). Ketiga unsur penentu aturan di Desa Citorek ini membentuk sistem sosial yang menjunjung peninggalan leluhur dan senantiasa selalu mengedepankan kelestarian lingkungan.

Beberapa aturan membuat wilayah adat Citorek senantiasa terjaga. Misalnya tentangleuwung kolot, istilah itu merupakan bahasa Sunda untuk hutan tua atau bisa disebut hutan lindungan. Leuweung kolot ini tidak boleh digarap karena dipercaya telah dipesankan turun temurun dari leluhur. Hal tersebut diketuhui untuk melindungi mata air di bagian hulu agar pemukiman dan lahan-lahan pertanian tidak mengalami kekeringan. Masih banyak hal yang dapat menjadi pelajaran masyarakat lain yang sudah tergerus kemoderan. Jika Anda ingin belajar kearifan lokal masyarakat Banten, salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah wilayah adat Citorek ini.

Kasepuhan Cisungsang

Warga kampung percaya Cisungsang didirikan oleh anak prabu siliwangi yang bernama Prabuwalangsungsang yang telah mengalami situasi Ilang Galuh Pajajaran, Raja ini banyak memberikan keturunan bagi masyarakat sunda yang tersebar di hampir seluruh daerah jawa barat. Konon kata cisungsang juga di bentuk dari dua kata Ci dan Sungsang, secara harfiah kata Ci adalah bentuk singkat dari cai dalam bahasa Sunda, yang berarti air, sedangkan sungsang dalam bahasa sunda berarti terbaling atau berlawanan dari keadaan yang lajim. Maka istilah Cisungsang dapat di artikan air yang mengalir kembali ke hulu (mengalir secara terbalik)

Berikut 18 tahap dalam satu siklus tradisi bercocok tanam padi di kasepuhan cisungsang :

  1. NUMPANG GALENG, Merapikan Galengan (pembatas antara kotakan sawah) terdiri dari gundukan tanah yang berfungsi sebagai penbatas sawah satu dengan yang lainnya. Kegiatan yan dilakukan dengan menggunakan cangkul dan kaki ini pertama dilakukan dalam sisitem bercocok tanam padi di kasepuhan Cisungsang, dilakukan sekitar bulan Mulud (bulan Sunda)
  2. NGABALADAH, Kegiatan ini dilakukan petani tradisional untuk membersikan sisa sisa sampah organik dari panen sebelumnya. Ngabaladah beryujuan untuk mengolah tanah agar kesuburannya tetap terjaga. Membajak sawah dengan menggunakan kerbau atau mesin traktor dilakukan pada fase ini.
  3. NGEUEUM BENIH, Setelah 1 bulan sawah dibersihkan dan di bajak, saatnya bakal benih di siapkan. Dengan menggunakan metode perendaman (ngeueum) bakal benih disebar ke permukaan sawah yang sudah terisi air. Langkah ini dilakukan selama 3-4 hari, sampai bakal benih mengeluarkan tunas yang nantinya akan disipakan sebagai benih padi.
  4. TEBAR, benih yang sudah keluar tunasnya dan telah disiapkan dalam sawah persemaian, kemudian di sebar ke sawah sawah lain yang akan ditaman padi
  5. TNDUR, Benih yang sudah disebar ke sawah sawah lain tadi, kemudian secara bersama sama ditanam dengan langkah mundur. Hal ini dilakukan agar benih yang sudah di tanam tidak terinjak injak oleh kaki sehingga mengganggu tanaman
  6. NGABERAK, Fase ini dilakukan 1 minggu setelah tandur, ngaberak yaitu kegiatan memberik pupuk, pupuk yang digunakan diantaranya, TSP dan pupuk kiamia lainnya. Dahulu, sebelum pupuk kiamia digunakan, petani menggunakan lebu (abu gosok) sebagai pupuk alami tanaman padi
  7. NGARAMBET (NGOYOS), Kurang lebih 1 bulan dilakukan tahap pertama silus ini, ngarambet (ngoyos) dilakukan. Pada fase ini sudah mulai tumbuh rumut liar di sekitar tanaman padi. Kegiatan ini dilakukan untuk memberisihkan rumput rumput liar tersebut
  8. BABAD, Masih dalah tahap pemeliharaan, BABAN yaitu kegiatan membersihkan galengan, karena selain di sawah rumput liar juga tumbuh di galengan sawah
  9. NYAWEN, Kegiatan ini lebih ke ritual karan padi sudah mulai berisi dan menguning. Ritual memohon agar padi tetap tumbuh, terjaga kesehatannya dan hasilnya berlimpah. Ritual ini dilakukan di tempat abah dan dilanjutkan ritual di ruma masihng masingwarga. bahan-bahan yang diperlukan dalam ritual ini diantaranya : Beras, lempah dan bubur beras.
  10. JATNIKA, Jatnika merupakan ritual sebagi tanda waktu untuk dapat memulai panen. Di kasepuhan Cisungsang, panen hanya dapat dilakukan apabila ritual ini sudah di laksanakan. Pada ritual ini para rendangan berkmpul di imah gede. Menyampaikan hasil kegiatan  siklus, kondisi tanaman padi, kesehatan dan kesuburannya. dan menyampaikan bahwa padi siap untuk dipanen. Para rendangan mendengarkan aeahan dan cerita abah tentang langkah-langkah dan hal lain terkait ritual memanen padi. dalam ritual ini abah memberikan bekal (kemenyan, panglay dan garu) sebagai bahan untuk ritual yang dilakukan di rumah dan di sawah masing-masing dan juga menentukan hari yang baik untuk memulai kegiatan panen
  11.  DIBUAT, Dibuat (panen) dilakukan petani menggunakan ETEM (ani ani) dengan memotong bagian atas padi (+- 40 cm) dan memasukannya kedalam epok (tempat terbuat dari anyaman bambu untuk mengumpukna padi setelah dipetik)
  12. NGABAWON, Setelah selesai dibuat, yang dialkukan oleh petani garapan, maak saatnya untuk menghitung hasil panen. NGABAWON adalah kegiatan untuk mneghitung dan membagi hasl panen antara petani garapan dengan pemilik sawah. Dengan perbandingan : 4 pocong untuk pemilik sawah dan 1 pocong untuk pekerja
  13. NGALANTAY, proses pengeringan padi setelah dipanen dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin. padi diletakan di atas bambu yang memanjang (5- 30 meter) dan dibuat bertingkat dan dibuatkan atap diatasnya, tujuan agar padi tidak terkena hujan. Arah lantaian bambu biasanya arah utara dan selatan. proses pengeringan ini membutuhkan waktu sekitar 1 bulan sampai padi kering
  14. MOCONG, padi yang sudah kering, kemudian di ikat (dipocong) menggunakan tali dari bambu masing masing pocong atau ikatan padi mempunyai berat sekitar 3 kilogram
  15. NGUNJAL, Setelah padi di ikat (dipocong) sekitar lantayan, padi di angkut atau dipikul dengan menggunakan bambu (rengkong) ke leuit masing masing gesekan yang dihasilkan antara tali dengan bambu atau rengkong menghasilkan bunyi ya khas dan suaranya bisa di dengar sejauh puluhan kilometer, karena dilakukan bersama sama
  16. NGADIUKEUN, Ngadiukeun atau Ngampihkeun atau Netepkeun yaitu menyimpan padi ke dalam leuit ada riual yang dilakukan dalam proses ini, tujuannya agar padi ang disimpan tetap terjaga kebaikannya, dan dijauhkan dari hama
  17. NGANYARAN, padi yang disimpan didalam leuit bar bisa di olah menjadi beras, prose pertama kali pengolahan padi menjadi beras, disebut dengan nganyaran, Nganyaran dilakukan di sung Leuit. Padi di tumbuk dengan menggunakan lisung.
  18. SEREN TAUN, Meruoakan kegiatan ungkapan syukur atas panen yang dilakukan. SEREN TAUN (serah taun) merupakan salah satu ritual yang dilakukan masyarakat Lsepuhan Cisungsang yang berada di kabupaten lebak, Provinsi Banten. Ritual inimerupakan ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa, setelah panen padi di laksanakan. Seren taun merupakan akhir dan awal kegiatan sosial masyarakat adat kasepuhan cisungsang. Akhri, karena pda ritual seren taun seluruh masyarakat adat kasepuhan cisungsang memberikan laporan ativitasnya selama setahun kebelakang. Dan Awal, karena pada ritual ini kepala adat (Abah Usep Suyatma Sr) memberikan wejangan wejangan dan bekal unutk aktivitas setahun kedepan. Ritual ini juga merupakan ajang silaturahmi antar anggota masyarakat kasepuhan dengan ketua adat. Ritual adat seren taun juga merupakan puncak siklus dari taridi bercocok tanam padi ala masyarakat kasepuhan cisungsang dalam proses pengolahan, menanam, memelihara, menyimpan dan menghargai padi (dalam kepercayaan masyarakat kasepuhan cisungsang, padi diposisikan sebagai Dewi Sri)

Video source Youtube Channel Cepy Naga

 

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More